Jumat, 24 Februari 2017

H. Abdullah Azwar Anas, S Pd, SS, M Si.
Tokoh Muda dengan Banyak Terobosan

Di usianya yang masih terbilang muda, Kang Anas, demikian ia biasa disapa, telah menorehkan karir yang cemerlang. Beberapa jabatan penting politik dan organisasi telah dipercayakan kepadanya. Kini, selain menjabat Bupati Banyuwangi, ia juga Ketua ISNU Jawa Timur. Terbaru, sejumlah partai politik menyebut-nyebut namanya untuk disandingkan mendampingi Pak De Karwo dalam Pilgub 2013.
--------

Ahad pagi (11/11) sekitar pukul 07.00 WIB, Aula mendatangi GOR Tawangalun dengan tujuan wawancara Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Ya, karena di tempat itulah Kang Anas bersama warganya sedang menyelenggarakan jalan sehat memperingati Hari Kesehatan Nasional di Banyuwangi. Ternyata benar, tak lama kemudian orang yang kami cari telah muncul.
“Aula ya!?” sapanya ketika kami bertemu, lalu ia mempersilakan masuk ke mobil dinasnya. Bupati asli putra daerah yang masih mengenakan kaos olah raga, training panjang dan sepatu kets itu tampak sumringah. Perasaan penuh optimis selalu tampak terpancar dari wajahnya. Tak lama kemudian mobil plat merah itu meluncur menuju rumah dinas. Nah, selama perjalanan itulah kami melakukan wawancara dengannya. “Sebentar lagi saya langsung ke Surabaya, Mas, untuk menggelar rapat koordinasi dengan jajaran pengurus ISNU,” ungkapnya sambil meminta maaf karena waktu yang diluangkan tidak banyak. Yah, memang itulah konsekuensi seorang pejabat, apalagi seorang kepala daerah.
Kang Anas pun bertutur tentang pengabdiannya di NU. Menurut bapak satu putra itu, kesadaran dirinya untuk aktif di lingkungan NU tidak datang begitu saja. Rupanya semua itu terjadi karena keinginan orang tuanya yang sejak lama mendambakan anak-anaknya menjadi aktifis NU dan mengabdi kepada kiai. Terbukti, sejak kecil dirinya sudah akrab dengan pendidikan NU. Beberapa kali dirinya nyantri di pondok pesantren kenamaan; mulai dari Pondok Pesantren An-Nuqoyyah (Sumenep), Bustanul Makmur (Banyuwangi), Darunnajah (Banyuwangi) dan Pesantren Ash-Shiddiqi Putra (Ashtra, Jember). Pesantren-pesantren itulah yang banyak membentuk karakter ke-NU-an dirinya.
Khusus untuk Pesantren An-Nuqoyyah, Guluk-guluk, Sumenep, suami dari Ipuk Fiestiandani ini mengaku dirinya punya kenangan tersendiri. Ketika masih SD, ia diajak oleh ayahnya menemui temannya di daerah Madura. Nah, setelah bertamu, tiba-tiba dia ditinggalkan di sana dan disuruh mondok di Pesantren An-Nuqoyyah, yang kebetulan tak jauh dari rumah teman ayahnya. “Tentu ini mengagetkan, niat berkunjung ternyata di suruh mondok,” kenangnya sambil terkekeh. 
Pengabdian di NU dimulai ketika dirinya duduk di bangku sekolah menengah atas dengan mendirikan IPNU Komisariat SMA Negeri Kotatif Jember. Memang, semasa SMA lelaki kelahiran Banyuwangi 6 Agustus 1973 itu mondok di Pesantren Ashtra dan sekolah di SMAN 1 Jember. Posisi itu diambil karena dia memegang teguh pesan ayahnya yang mengharuskan berpijak di pesantren. “Abah saya memperbolehkan sekolah di mana saja, asalkan tinggal di pesantren," Kang Anas menceritakan masa lalunya. “Nah, waktu sekolah di SMA Negeri 1 Jember itulah saya aktif di IPNU dan menjadi ketua komisariat di sana,” tuturnya dengan nada merendah. Padahal banyak orang mengakui terobosannya dalam membuka Komisariat IPNU di SMA Negeri bonafide tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa.
Dari IPNU komisariat itulah karirnya terus meningkat. Terutama sejak dirinya memutuskan hijrah ke ibukota untuk kuliah di Fakultas Teknologi IKIP dan Fakultas Sastra UI Jakarta pada tahun 1992. Selama masa-masa perkuliahan itu pula dirinya terus aktif di PP IPNU dan berupaya memberikan yang terbaik untuk NU. JabatanWakil Sekjen PP IPNU (1993-1996) dan Sekjen PP IPNU (1996-2000), bahkan Ketua Umum PP IPNU (2000-2003), pernah dipercayakan kepadanya. Rekam jejak yang sedemikian gemilang di usia muda itulah yang menjadikan anak kedua dari 11 bersaudara putra pasangan KH Achmad Musayyidi dan Hj Siti Aisyah itu semakin banyak mendapat kepercayaan dari NU.
Ketika masih menjabat Sekjen PP IPNU misalnya, ia telah terpilih menjadi anggota MPR-RI termuda kedua dari utusan golongan (1997-1999). Dari sinilah karir politiknya dimulai. Ketika PKB didirikan pada 1998, ia duduk di Wakil Ketua Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa (1998-2000), setahun kemudian dipercaya menjadi Wakil Sekjen DPP PKB (2001-2005).
Kursi DPR RI mulai dirasakannya melalui hasil Pemilu 2004. Lima tahun ia duduk di Komisi V yang membidangi infrastruktur, transportasi, perumahan dan daerah tertinggal. Di komisi itulah Kang Anas menjadi salah satu inisiator penyelesaian kasus Lumpur Lapindo di Sidoarjo, inisiator hak interpelasi DPR atas kenaikan bahan bakar pokok, dan juga inisiator hak angket DPR atas kebijakan pemerintah menaikkan tarif BBM pada tahun 2007.

Memimpin Daerah
Dua tahun lalu Kang Anas terpilih sebagai Bupati Banyuwangi. Di tanah kelahirannya itu makin tampak jelaslah jiwa kepemimpinnya yang luar biasa. Betapa tidak, gonjang-ganjing dunia politik di Kota Gandrung itu sangat keras dan berlarut-larut. Banyak korban telah berjatuhan. Tapi setelah tampuk kepemimpinan berada di tangan Kang Anas, suasana panas itu sirna dengan sendirinya.
Ketika suasana sudah tenang, Kang Anas memulai kerja dengan semangat tinggi. Ia bertekad untuk menjadikan Banyuwangi sebagai The Sunrise of Java. Banyak gebrakan luar biasa ia tunjukkan. Kekayaan alam dan potensi sumber daya manusia yang ada ia manfaatkan betul untuk membangun. Hasilnya? Ternyata luar biasa. Dalam masa dua tahun ia berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga 72,2 persen pada akhir tahun lalu, dengan IPM dari 68% menjadi 72,08%.
Atas sentuhan tangannya pula Banyuwangi menjadi semakin menarik di mata investor.
“Menurut data BKPM, tahun 2010 Banyuwangi menempati ranking 31 dalam hal minat investasi di Jawa Timur. Dan pada tahun 2011, Banyuwangi sudah berada di urutan nomor 3 untuk kota tujuan investasi, di bawah Gresik dan Sidoarjo,” tuturnya dengan optimis.
Masalah keamanan dan kemiskinan juga sudah ditandanginya sejak menjabat bupati. Dua tahun silam, Kabupaten Banyuwangi masuk 10 besar rawan kejahatan. Tapi kini, tempat asal muasal budaya Osing ini sudah menapak di 10 besar daerah teraman di Jawa Timur. Salah satu kunci keberhasilannya,  Kang Anas secara rutin mengajak berbagai pihak, Forpimda, kalangan LSM, Ormas dan media duduk bersama memikirkan dan mendukung kondusifitas daerah untuk  Banyuwangi ke depan. 
"Kita punya forum pertemuan tiga bulanan dengan semua pihak. Saya ingin semua elemen masyarakat terlibat dalam program-program pemerintah untuk ikut serta menyejahterakan rakyat," paparnya.
Nama Azwar Anas memang identik dengan terobosan. Untuk mendongkrak pariwisata daerah misalnya, berbagai acara digelar. Bahkan kegiatan-kegiatan berskala  internasional, mulai dari Banyuwangi Ethno Carnival, International Supercross sampai Tour de Ijen. Lelaki yang selalu tampak enerjik itu tak pernah berhenti mempromosikan eco-tourism yang banyak dimiliki di tanah Blambangan itu. Kini, Banyuwangi telah menjadi salah satu destinasi wisata nasional dan internasional. “Ketika banyak wisatawan datang ke Banyuwangi, maka banyak pihak yang diuntungkan, khususnya rakyat,” Kang Anas menjelaskan motif di balik tujuannya.
Salah seorang bupati terbaik selama pendidikan Lemhannas 2012 itu tak keberatan menularkan kunci suksesnya. Salah satu dari kunci itu adalah tetap menjaga komunikasi yang baik dengan para ulama, tokoh lintas agama dan para insan media. Kegiatan itu rutin ia laksanakan setiap tiga bulan sekali. “Untuk menjaga stabilitas keamanan masyarakat dan mendengarkan keluh kesah apa yang ada dalam masyarakat,” tuturnya. Selain itu, yang terpenting adalah pertemuan tersebut juga dapat menjadi motor penggerak dari pembangunan ekonomi yang sedang digalakkan oleh Pemda.

Tetap Setia Berkhidmat
Sebagai seorang kader, Kang Anas mengaku tak pernah lepas komunikasi dengan para stakeholder NU. Ia secara intensif selalu melakukan komunikasi dengan para kiai. "Setiap tiga bulan sekali saya bertemu para kiai, pengasuh-pengasuh pesantren, pengurus dan tokoh-tokoh NU. Saya selalu dengarkan taushiyah-taushiyah mereka. Ini jadi bahan buat saya dalam memimpin Banyuwangi," Kang Anas menularkan resep yang lain.
Ketua PCNU Banyuwangi, KH Masykur Ali, tidak menampik sinyalemen itu. Bahkan Kiai Masykur memandang Azwar Anas sebagai pribadi yang luar biasa dalam memimpin Banyuwangi. Kang Anas, menurutnya, bisa masuk ke semua lini dan membuat gebrakan-gebrakan yang luar biasa. 
"Program-program yang diusungnya memang menyentuh masyarakat, khususnya rakyat kecil. Ia benar-benar diterima. Terobosan-terobosannya belum pernah dilakukan oleh bupati-bupati sebelumnya," terang Pengasuh Pesantren Ibnu Sina Genteng Banyuwangi itu. Lebih dari itu, Kiai Masykur mengacungkan jempol atas upaya Kang Anas dalam menutup lokalisasi di Banyuwangi. Menurutnya, hal itu merupakan tindakan nyata dari seorang umara’ dalam memerangi kemungkaran di daerah kekuasaannya.
Model komunikasi yang efektif ke semua kalangan juga diakui oleh Kiai Masykur. Kang Azwar tidak saja mampu berkomunikasi dengan baik kepada kalangan NU, terhadap pihak-pihak di luar NU juga mendapat dukungan yang besar, termasuk dari kalangan non muslim. Ia mampu menyatukan kerukunan dan kebersamaan antar umat beragama unuk membangun Banyuwangi. Kang Anas, dalam pandangan Kiai Masykur, harus menjabat bupati dua periode agar pekerjaannya tuntas untuk menyejahterakan Banyuwangi.
"Kalau beliau nyalon (bupati) lagi, tidak perlu kampanye, bisa langsung jadi. Karena dukungan masyarakat luar biasa. Seluruh elemen mendukungnya. Pak Anas sudah terbukti," kiai yang selalu enerjik itu mempromosikan kadernya.
Berkat terobosan yang dilakukan dan prestasi yang diraih, pada akhir tahun 2012 lalu Kang Anas terpilih sebagai Bupati Paling Inovatif di bidang kesehatan di Provinsi Jawa Timur. Penghargaan diberikan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Dr H Soekarwo.

Kesuksesan di usia muda itulah yang menjadikan Gubernur Jawa Timur Soekarwo (konon) meliriknya untuk mendampingi dalam Pilgub 29 Agustus mendatang. Menanggapi isu bakal digandeng Pak De Karwo, Kang Anas menyatakan, ia menghargai siapapun yang memiliki ide tersebut. Namun ia lebih memilih berkonsentrasi untuk berkhidmat di Banyuwangi yang sekarang sedang berkembang.

*) Dimuat di Majalah Aula 2013

0 komentar:

Posting Komentar