Kamis, 13 Januari 2011

Polemik H Mahrus Ali (ternyata) Belum Selesai

Kesabaran hati kaum Nahdliyin kembali digoda. Buku terbaru H Mahrus Ali kembali terbit. Isinya masih seperti yang dulu, bisa “menggemaskan” hati. Bedanya, topik yang diangkat kali ini berbeda. Bagaimana kita harus menyikapi?

MASIH ingat nama H Mahrus Ali? Yah, setelah cukup lama tenggelam dari pemberitaan media, nama itu kembali menjadi polemik. Hanya saja kalau sebelumnya polemik berlangsung di tengah masyarakat, polemik kali ini lebih banyak berlangsung di dunia maya, melalui saluran facebook.

Polemik dipicu oleh munculnya buku terbaru H Mahrus Ali dengan penerbit yang sama, Laa Tasyuk! Press. Sebagaimana biasa, judul buku itu cukup mudah memancing emosi. Di sampul depan nama penulis cukup jelas H Mahrus Ali (Mantan Kyai NU), dengan judul buku Amaliah Sesat di Bulan Ramadhan (kesyirikan ngalap berkah kubur, ruwahan, megengan dan kesesatan dzikir berjama’ah disela-sela shalat tarawih).

Sebenarnya Aula kurang tertarik lagi menulis laporan tentang alumni Pondok Pesantren Langitan yang tidak diakui almamaternya tersebut. Pengalaman sebelumnya sudah cukup menjadi pelajaran, betapa ia tidak bisa diajak beradu argumentasi secara sehat dan wajar. Saat ada “tantangan” dialog, ia malah mengajukan syarat yang terbilang tidak masuk di akal orang waras. Pertama, ia minta agar dialog diadakan di rumah H Mahrus, dengan catatan dilakukan orang per orang, tidak boleh secara rombongan. Kalau orangnya banyak harus dilakukan secara bergiliran.

Kedua, jika dialog dilakukan di tempat lain, ia minta dua jaminan: pertama, jaminan uang sebesar Rp 2.000.000.000 (dua miliar), dan kedua, jaminan keamanan. Jaminan keamanan itupun terbilang cukup unik. Ia minta dijemput ke rumah dengan pengawalan 1 truk polisi bersenjata lengkap dan 1 jip polisi militer. Mereka harus menjemput ke rumah, menunggui selama dialog dan mengantar kembali ke rumah. Banyak orang tertawa saat mendengar permintaan yang terbilang cukup janggal tersebut.



Tidak heran kalau tiga kali undangan debat terbuka tidak pernah ia hadiri. Pertama di IAIN Sunan Ampel Surabaya, kedua di Malang, dan ketiga di Masjid Kauman Desa Gedongan, yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Selain karena faktor syarat awal, alasan yang dimunculkan makin berfariasi, mulai dari undangan yang terlalu mepet sampai minta waktu setidaknya 3 bulan untuk muthala’ah. Orang pun tersenyum kala mendengar adanya syarat tambahan tersebut.

Selain faktor mbulet itu, masih ada lagi penyebab Aula enggan menulis seputar H Mahrus Ali. Pengalaman yang lalu (edisi Nopember 2006, Maret 2008, April 2008, Juni 2008 dan Agustus 2008), ternyata tulisan yang panjang lebar itu malah menguntungkan penerbit dan melambungkan nama H Mahrus Ali. Padahal di kampungnya, Tambaksumur, Waru, Sidoarjo, ia bukanlah siapa-siapa. Bukan tokoh kampung, apalagi Kiai NU. Sekitar 30 orang pengikutnya, mayoritas warga pendatang yang tidak berlatar belakang pesantren.

Lebih dari itu, ternyata H Mahrus hanyalah “korban” kenekatan penerbit. Judul buku yang bombastis itu (Mantan Kiai NU) adalah rekaan penerbit yang ingin mengeruk untung sebesar-besarnya dari tulisan ayah dari 14 anak tersebut. Benar juga. Berkat pemberitaan dan polemik yang luar biasa, buku itu malah makin laris bak kacang goreng. Bahkan di beberapa toko buku di luar kota pembeli malah harus berani indent jika ingin kebagian jatah. Repotnya, H Mahrus Ali malah tidak mendapatkan apa-apa dari larisnya buku, mengingat ia menjual naskah, tidak menggunakan sistem royalti. Orang terus marah pada H Mahrus, sementara penerbit dengan enaknya menghitung untung yang terus melambung.

Ketika H Mahrus mengadukan keberatan pada penerbit atas penggunaan judul “Mantan Kiai NU” yang dilabelkan pada dirinya, sehingga banyak kiai NU beneran marah kepadanya, penerbit hanya menjawab dengan enteng: “Supaya bukunya laku. Kalau sampai tidak laku, apa Sampean mau tanggung jawab?” elak mereka. H Mahrus pun langsung ciut nyali mendengar gertakan seperti itu.


Dari banyak pengalaman itu, ditambah saran dari beberapa kiai, dalam waktu cukup lama Aula tidak lagi memperhatikan sepak terjang H Mahrus Ali dan penerbit Laa Tasyuk! Press. Namun setelah mendapatkan banyak pengaduan dari masyarakat di beberapa daerah yang tidak mengetahui kronologi persoalan buku H Mahrus Ali, ditambah dengan maraknya dialog di internet pada akhir Oktober lalu, membuat Aula ingin memberikan tambahan informasi. Apalagi ada rombongan dari Tebuireng yang mengunjungi rumah lelaki asal Desa Telogorejo, Sidomukti, Kebomas, Gresik itu.

Khawatir Mengganggu Kerukunan

Adalah KH Thobary Syadzily yang memulai. Salah seorang anggota Komisi Fatwa dan Hukum MUI Kota Tangerang, Banten itu menulis di akun facebook-nya tentang terbitnya buku H Mahrus yang harus diwaspadai. Judulnya juga cukup menyentak: H Mahrus Ali Pembohong dan Pemecah Belah Ummat.

Telah terbit kembali buku karangan Wahhabi, H Mahrus Ali. Awas jangan sampai terprovokasi atau terpengaruh dengan keberadaan buku ini !!. Buku ini dan buku-buku lainnya karangan H Mahrus Ali penuh dengan kebohongan dan hasil rekayasa dari Wahhabi di atasnya saja. Dengan kata lain, buku-buku itu hanyalah sebagai penyambung lidah Wahhabi (termasuk penerbit “LAA TASYUK” Jln Pengirian No 82 Surabaya dan oknum-oknum yang berada di belakangnya) saja yang bertujuan untuk mengadu domba antara NU, Muhammadiyah, Persis dan ormas-ormas lainnya dan memperdaya ummat Islam di Indonesia khususnya para warga Nahdhiyyin. Itulah gaya politik Wahhabi yang murahan dan rendahan (cheap and low political style of Wahhabi) yang selalu ditampilkan dalam da’wahnya. Begitu sebagian dari bunyi tulisan Kiai Thobary.

Gayung langsung bersambut. Ternyata tulisan itu mendapatkan tanggapan luar biasa dari para penggemar chating. Hanya berselang 2 hari, tidak kurang dari 98 tanggapan masuk. Kebanyakan menghujat penerbit ataupun penulis, mulai dari sekadar mencela sampai yang mohon izin membunuh. “H Mahrus Ali ini bisa memecah belah umat Islam. Saya khawatir mereka bertengkar diakibatkan beredarnya buku-buku yang suka membid’ahkan orang lain itu. Ini harus dihentikan!” Kiai Thobary memberikan alasan sikapnya.

Tidak puas hanya lewat dunia maya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Husna Periuk Jaya Tangerang, Banten itupun “ngeluruk” ke rumah H Mahrus pada 22 November 2010. Bersama Gus Cecep dari Tebuireng, Habib Fikri, kenalan di dekat rumah H Mahrus Ali dan seorang sopir ia mendatangi rumah H Mahrus, dengan terlebih dahulu bertamu pada keponakannya, H Mahmud Ubaid. Gus Cecep adalah cucu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Semasa hidup Gus Dur ia paling sering diajak mendampingi sepupunya itu saat ke makam para shalihin. Tidak heran kalau ia mendapatkan panggilan Sarkub, alias sarjana kuburan. Dunia gaib seakan menjadi kehidupan sehari-hari alumnus Pondok Modern Gontor tersebut. Tanpa kesulitan yang berarti, akhirnya mereka bisa bertemu dengan tuan rumah H Mahrus Ali.

H Mahrus Siap Dialog

Duduk di lantai beralas tikar, mereka berdialog, dimulai dengan hal-hal yang ringan. Ketika disinggung mengenai syariat yang berbeda, H Mahrus lebih banyak menghindar. Namun ketika menyangkut buku karyanya ia dengan senang hati melayani. Bahkan dengan penuh percaya diri ia meminta untuk dikoreksi. “Mana yang salah, saya siap mengoreksi, ini demi kebaikan bersama,” kata H Mahrus, seperti yang ditirukan Gus Cecep.

Pembicaraan mulai serius saat menyentuh judul buku-bukunya yang dapat dengan mudah memancing emosi warga NU. “(judul) Itu bukan kemauan saya, saya hanya buat naskahnya,” elak H Mahrus. Mengapa tidak mengajukan keberatan? “Sudah. Tapi saya tidak kuasa untuk itu,” balas H Mahrus tak mau kalah. Akhirnya ia diminta menuliskan pernyataan bahwa judul buku memang bukan atas kemauan dirinya, melainkan kehendak penerbit. Inilah yang mungkin akan dipersoalkan lebih serius oleh rombongan dari Tebuireng tersebut.

Pembicaraan selanjutnya adalah soal hisab-rukyat. Sebab dalam buku karyanya, H Mahrus menyebutkan bahwa penentuan awal bulan menggunakan ilmu hisab adalah bid’ah, karena tidak ada ajaran dari Rasulullah, tidak ada Hadisnya. Dan pada kenyataannya –menurut H Mahrus dalam bukunya itu – ilmu hisab tersebut tidak menyelesaikan persoalan apabila terjadi perbedaan pendapat dalam penentuan jatuhnya awal bulan qamariyah, seperti awal Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah. “Coba kalau dikembalikan kepada Qur’an dan Sunnah Rasul dengan menggunakan rukyat, maka persoalan akan selesai,” begitu analogi H Mahrus. Enteng.

Ditanya tentang cara melakukan rukyat, mengingat posisi hilal belum diketahui (sementara munculnya kadang hanya dalam hitungan menit atau detik) H Mahrus tampak kurang memahami persoalan itu. “Kalau soal penentuan hari raya, saya percaya NU,” jawabnya singkat tanpa perasaan bersalah. Para tamunya tampak kaget, mengingat NU menggunakan rukyat, namun dipandu dengan hisab sebelumnya.

Lalu, data-data tulisan tentang ilmu hisab yang ada di buku itu dapat dari mana? “Saya ambil dari internet,” tuturnya lirih sambil tersipu-sipu. Kiai Thobary hanya tersenyum melihat keterbatasan penulis yang dalam bukunya dilabeli “Syeikh” itu. Sampai saat itu H Mahrus belum mengetahui kalau orang yang duduk di hadapannya adalah Ketua Lajnah Falakiyah PWNU Banten dan salah seorang anggota tim Badan Hisab Rukyat Kementrian Agama RI.

Menjelang akhir pertemuan, H Mahrus kembali menegaskan kesiapannya melakukan dialog terbuka. Hanya saja tetap ada syarat yang harus dipenuhi. Kali ini bukan persoalan uang, tapi hanya masalah tempat. Ia minta tempat yang aman, bukan di tempat komunitas orang NU. Dan tempat aman yang dimaksud adalah gedung kepolisian! Para tamu itupun hanya tersenyum menanggapinya.

Di sisi lain, saat dialog berlangsung itu Gus Cecep melihat ada makhluk lain yang selalu mendampingi H Mahrus. Tidak ikut bicara, namun cukup untuk memberikan spirit pada penganjur aliran shalat langsung di atas tanah dan memakai sandal tersebut. “Dia itu gurunya saat di Makkah dulu,” tutur Gus Cecep, yang biasa diajak Gus Dur keliling ke makam-makam keramat.

Sepulang dari rumah H Mahrus, mereka sempat memotret warkop yang biasa ditempati H Mahrus bercengkrama. Mereka pun tampak puas dengan kunjungan itu dan memiliki kesimpulan yang sama, bahwa nama H Mahrus Ali tidaklah sehebat yang digembar-gemborkan. Namun soal sikap akhir, keduanya belum satu kata. Kiai Thobary ingin agar PWNU Jawa Timur bersikap lebih tegas lagi pada H Mahrus Ali dan penerbit Laa Tasyuk! Press, mengingat buku-buku yang diterbitkan sangat membahayakan kerukunan umat Islam dan mengandung unsur adu domba.

Sedangkan Gus Cecep bersikap sebaliknya. Ia ingin orang itu dibiarkan saja, toh masyarakat sudah pada tahu siapa sebenarnya dia. “Kalau diurusi serius, dia malah terkenal,” ujarnya memberikan alasan. Bagaimana dengan kita? (M. Subhan)

*) Dimuat di Majalah AULA Edisi Januari 2011 dalam rubric “Liputan Khusus”.

82 komentar:

  1. ga bisa di share ya?

    BalasHapus
  2. Aku asli dari keluarga NU,dari dulu ada keraguan masalah tawasul,berdoa lewat orang yang sudah mati,secara akal sehat jelas tidak masuk akal,dan Alhamdhulillah sekarang semuanya sudah terjawab oleh buku2 karya H.Mahrus Ali dengan dalil yg sangat kuat dari Al-Quran dan hadist shoheh,apa lagi sekarang sudah mulai banyak orang2 NU hijrah ke Aqidah yg benar,dan mereka juga sudah meninggalkan sunah2 bikinan ulama2 Ahli Bid'ah.Yg nggak habis kupikir kenapa orang2 NU yg merasa paling benar/pandai sendiri tentang Islam tak bisa membedakan mana Bid'ah mana Sunnah?padahal apapun model/bentuknya Bid'ah yg sayyiah,hasanah(meskipun ada didalam hadist)jelas bertentangan dengan surat Al Hujarat ayat 1,maka jelas semua Bid'ah adalah "SESAT".sekarang saatnya aku segera meluruskan anggota keluargaku kembali hijrah ke Aqidah yg benar,dan saya katakan meskipun bukan hanya 1000 tapi 1.000.000. trik atau rekayasa untuk menjatuhkan misi dak'wahnya H.Mahrus Ali saya sangat tidak mempercayainya,karena itu semua rekayasanya IBLIS berujud manusia.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. NU tulen apa WAHABI. MASALAH bid ah tanya yg paham. sebutkan bid ah2nya mana?????

      Hapus
    2. Emang keluargamu orang NU tulen, la ente ini emang orang NU tulen (ngaji mondok di pesantren NU tulen), jangan ngaku2 orang NU tulen deh , boleh ente dari keluarga NU tulen tapi kalau kamu ngajinya sama bajingan ya jadinya bajingan. Asu kowe

      Hapus
    3. Oh........ orang aswaja NU tulen akhlaknya begini ya? Ini aswaja yang lurus yah? yang bukan Wahabi? Kalau wahabi kok gak ada kata-kata bajinga seperti kata-kata ente "boleh ente dari keluarga NU tulen tapi kalau kamu ngajinya sama bajingan ya jadinya bajingan. Asu kowe" ini sudah mencerminkan aswaja ente aswaja amburadul alias klenik kejawen gak karuan, Cukup dengan kata-kata ente, bisa disamaratakan Aswaja versi NU akhlaknya kaya gini semua gak kyainya, gak ustadnya, gak jamaahnya. Daahhhhhh NU klenik. Aswaja yang klenik-klenik yang lurus yah, Aswaja yang seneng nyembah ke Kuburan yah? Kalau akidah ente lurus, kenapa di centralnya NU (Jawa Timur) sering terjadi fitnah? Ponari, Lumpur Lapindo, Kyai cabul, dll? Kenapa yang difitnah bukan negara yang berpaham Wahabi (Arab Saudi) yang menurut ente sesat? Kenapa Dajjal gak menginjak dua kota di Arab Saudi Madinah dan Mekkah? Kok bukan di Jombang atau Kediri yang katanya Islamnya lurus? Lurus dari Hongkong? Dari uraian ini saja sudah jelas, bahwa NU itu akidahnya gado-gado, amburadul. Apapun Lembaganya kalau NU pimpinannya, porak poranda sistemnya. Mana ada Wahabi mencabuli santri?, Mana ada Wahabi korupsi Al Qur'an? Mana ada antara ustad Wahabi gontok-gontokan? yang ada hanya di NU. Titik, tanda tanya, tanda seru 1000x

      Hapus
  3. to fajar,muka kotor and kumel tak bercahaya gyk mhsus ali di puji mata ente buta yah,gk bs bedain mana org dkt dgn ROB,mana yg bajingan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh........ orang aswaja NU tulen akhlaknya begini ya? Ini aswaja yang lurus yah? yang bukan Wahabi? Kalau wahabi kok gak ada kata-kata bajinga seperti kata-kata ente "boleh ente dari keluarga NU tulen tapi kalau kamu ngajinya sama bajingan ya jadinya bajingan. Asu kowe" ini sudah mencerminkan aswaja ente aswaja amburadul alias klenik kejawen gak karuan, Cukup dengan kata-kata ente, bisa disamaratakan Aswaja versi NU akhlaknya kaya gini semua gak kyainya, gak ustadnya, gak jamaahnya. Daahhhhhh NU klenik. Aswaja yang klenik-klenik yang lurus yah, Aswaja yang seneng nyembah ke Kuburan yah? Kalau akidah ente lurus, kenapa di centralnya NU (Jawa Timur) sering terjadi fitnah? Ponari, Lumpur Lapindo, Kyai cabul, dll? Kenapa yang difitnah bukan negara yang berpaham Wahabi (Arab Saudi) yang menurut ente sesat? Kenapa Dajjal gak menginjak dua kota di Arab Saudi Madinah dan Mekkah? Kok bukan di Jombang atau Kediri yang katanya Islamnya lurus? Lurus dari Hongkong? Dari uraian ini saja sudah jelas, bahwa NU itu akidahnya gado-gado, amburadul. Apapun Lembaganya kalau NU pimpinannya, porak poranda sistemnya. Mana ada Wahabi mencabuli santri?, Mana ada Wahabi korupsi Al Qur'an? Mana ada antara ustad Wahabi gontok-gontokan? yang ada hanya di NU. Titik, tanda tanya, tanda seru 1000x

      Hapus
  4. di toko toko buku karangan beliau makin laris aja. dan kayaknya juga smakin banyak yang penasaran dan akhirnya malah makin kesengsem dengan dasar dasar yang disampaikan dan sampai akhirnya , bertobat dan menyesali diri bahwa selama ini ternyata diri pembaca termasuk yang hatinya kotor. mudah 2 an Alloh mengampuni kejahilan kami di masa lalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bertolak belakang dengan buku buku Aswaja Klenik, di pinggiran toko emperan cina, di pasar malam, di pasar penjual buku-buku bekas, kalau di Toko buku besar, naruhnya di tempat obralan.

      Hapus
  5. Lau Kaana Khairan Lasabaquuna Ilaihi - Kalau sekiranya perbuatan itu baik tentulah para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya.
    silahkan pahami kaidah di atas, silahkan cari di internet..wahai warga nahdliyin

    BalasHapus
  6. Untuk saudara-saudara saya warga NU, hendaknya jangan memandang buku karaya Mahrus Ali itu dari segi negatifnya saja. Kalau ada kebenaran dalam buku itu ambillah, jika ada kesalahan di dalamnya maka luruskan dengan cara yang baik. Terlepas masalah amalan2 kaum nahdliyyin itu ada dalilnya atau tidak seharusnya NU juga introspeksi diri. Apakah amalan2 yang biasa dilakukan itu (misal tahlilan, yasinan, muludan, dsb)semakin membuat kita semakin dekat kepada Allah, semakin cinta kepada Rasulullah, dan semakin mengamalkan sunnah2nya? Atau hanya sekadar rutinitas ritual semata? Mohon maaf, kalau sekiranya dengan muludan -misalnya- warga NU semakin giat menjalankan sunnah Rasul, kenapa di masjid2 NU -meskipun mungkin tidak semua- pada saat sholat berjamaah jarak antar jamaah yang bersebelahan banyak yang renggang dan hal ini seperti dibiarkan saja oleh imam padahal jelas2 Rasulullah mengajarkan agar dalam shalat berjamaah itu kita harus merapatkan barisan, bahkan sampai pundak sesama jamaah itu menempel satu sama lain. Jika amalan2 itu membuat kaum nahdliyyin semakin taat menjalankan syari'at kenapa masih banyak kaum muslimah NU yang tidak rapi dalam menutup auratnya, kenapa pula banyak warga NU yang masih jadi perokok berat padahal merokok itu jelas2 membawa kemudlorotan dan Rasulullah melarang kita melakukan hal yang membawa pada kemudlorotan. Kalau amalan2 warga NU itu hanya jadi ritual yang kosong dari makna jangan salahkan kalau banyak orang menyebut amalan2 itu sebagai bid'ah dan mengecap warga NU yang fanatik dengan amalan2 itu sebagai ahli bid'ah. Sekali lagi saya tidak ingin menyinggung sipapun di sini. Semoga ini menjadi bahan renungan kita bersama.

    BalasHapus
  7. Sampai usia 46 saya tetap warga NU keturunan,dan sangat meyakini bahwa dari 73 golongan Ahli Sunnah Wal Jama'ah yg selamat hanyalah NU saja.Setelah baca buku saku "Seputar Hukum Selamatan,Yasinan dan Tahlilan" dan buku "Bila Kiai diPerTuhankan"dari LPPI karya Hartono Ahmad Jaiz,akirnya penasaran dng buku lainnya misal : Aliran dan Faham Sesat diIndonesia,Ada Pemurtadan di IAIN,Bahaya Islam Liberal,Kesesatan LDII dll.Kemudian terbit buku H Mahrus Ali yg kontroversial dng NU,Disusul Buku Putih Kiai NU oleh Kiai Afroki Abdul Ghoni,MWC NU Membedah Kitab Tauhid Kiai Ahli Bid'ah oleh Drs Buchari.Juga buku bagus/berbobot "LAU KAANA KHAIRAN LASABAKUUNA ILAIHI". Ternyata setelah kita baca2 bukunya benar benar Ilmiah dan masuk diakal.Maaf bukannya saya memihak mereka,terus terang saja saat ini saya sedang benarbenar mecari Islam yg murni,bersih dan benar sesuai dengan apa yg dijarkan oleh Rosulullah saja. Disebuah tautan didunia maya buku-buku mereka langsung diklaim buku-buku sesat.Ini adalah suatu bantahan yg benar-benar tidak etis dan ilmiah. Dari ini saya sangat mengharap kepada tokoh NU dari Aktivis NU,Kiai,Gus,Ulama juga team LBM Jember, utk menanggapi buku2 mereka dng tegar,tidak emosi,tidak dengan taklid buta dan yg ilmiah. Dan tanggapilah dari buku2 mereka perbuku dan tidak langsung diklaim semua buku mereka sesat (karna itu adalah taklid buta dan membabi buta).Dan tanggapilah perbuku dari buku2 mereka dengan dalil yg kuat(dr Al Qur'an)dan hadits shohih yg mendetail seperti bukunya Mahrus Ali "Sesat Tanpa Sadar" yg menjawab buku Membongkar Kesesatan...Sampaikan komplit asal usul,perowi dan sanadnya dng jelas.Biar nanti pembaca yg menilai akan kebenarannya dan untuk meyakininya.Setelah baca buku mereka timbul dari hati utk menanyakan dan mohon dengan sangat para tokoh NU utk menjawabnya,pertanyaanya sebenarnya ratusan cuma saya sebutkan beberapa saja.1-Dikitab apa ada tentang sholawat Nariyyah dan sholawat Badr,(apakah itu tuntunan dari Rosulullah atau Imam Safe'i atau sunnsh bikinan ulama saja?).2-Apakah dan kenapa Rosulullah,para sahabat,4 Imam Maliki,Hanafi,Safe'i,Hambali tidak mengajarkan selamatan setelah kematian 3-7-40 hari dst,yasinan dan tahlilan?,dan sejak kapan.oleh siapa acara itu diajarkan?,Apakah acara itu bisa mengurangi dosa seseoang (misalkan koruptor)?.Kenapa acara itu pula yg mengadakan hanya warga NU saja (negara Islam lainnya tidak ada)?.4-Kenapa waktu Rosulullah perang demi Islam lawan orang kafir tidak menggunakan Ilmu Tenaga Dalam (tetap saja pakai pedang dan panah),dan tidak memberi rajah,jimat bertuliskan arab?.5-Yg benar itu Al Qur'an yg harus mengikuti adat,tradisi dan zaman atau sebaliknya tradisi,adat dan zaman yg harus kembali kepada Al Qur'an?.6-Apakah buku : LAU KAANA KHAIRAN LASABAKUUNAA ILAIHI itu sesat?.7-Bagaimana dng Muktama NU pertama di Surabaya tgl 13 Rabiul Tsani 1345 H (21 Oktober 1926)menetapkan dengan tegas bahwa selamatan setelah kematian adalah bid'ah yang hina,apakah itu fitnah?. Fakta nyata bahwa sampai detik ini belumada seorangpun dari Habib,Gus,Kiai,Ulam yg bisa menemukan kalau selamatan 3-7-40=hari dst itu dari Al Qur'an maupun Hadits Rosulullah. Adanya dikitab suci orang Hindu yaitu WEDA Manawa Darna Sastra Weda Samerti hal 192-193, dan di Sama Weda Samhita Buku I hal 1,Bab 10 no I hal 20.( fakta nyata itu adalah ritual agama Hindu / bukan dari Islam).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya begitulah pak, persis pengalaman saya. Hati saya mulai terbuka dan penuh tanda tanya sewaktu ritual pemakaman, sebelum mayat dimakamkan kok diadzani? setelah dimakamkan kok baru di talkin? Pertanyaan ini terus menggelayut apakah benar begitu? Seandainya benar, apa bedanya orang yang tekun beribadah dan malas beribadah, seandainya talkin itu menjadi jalan untuk mempermudah jawaban pertanyaan munkar nakir? Tentu akan masuk surga.

      Hapus
  8. Sy kira, sudah sepatutnya kita mengucapkan Alhamdulillah, ternyata masih ada gurum kiyai, ustadz seperti Mahrus Ali mau bersusah payah meneliti, mengkaji dan menelaah serta menemukan isyarat kebaikan dari berbagai literatur masalah ajaran Islam. Smg Allah SWT memberkahi amal salehnya dan kita yang hanya mampu membaca buku dan pendapatnya juga dilimpahi rahmat-Nya.

    BalasHapus
  9. Kalo mau bikin buku lebih laris dari mahrus ali kencingin aja sumur zam-zam di Mekkah sana lalu ceritakan di buku secara detail...ntar bakal laris ke seluruh dunia......ada nggak jaminan saya masuk surga bila beli dan baca2 buku2 yg kontroversi ini ....apalagi sumbernya internet ...wah saya telah kecewa dg internet...dimana saya download software Al-Quran +terjemah...yg sudah 10 tahun kalo nggak salah di edarkan dan mungkin sudah dimiliki ribuan mungkin jutaan umat ternyata ada kalimatnya yg kurang dalam salah satu ayat.....ini jadi pahala pembikinnya, atau kelalaian penyusunnyanya akan diampuni Allah SWT atau gimana nasib ribuan orang2 yg telah terlanjur download dan memakai itu software ...siapa yg menanggung dosa kesesatannya...baca al Quran jadi tersesat....naudzu bika mindzliik......

    BalasHapus
  10. Lau Kaana Khairan Lasabaquuna Ilaihi ...ada perbuatan salah satu sahabat Khulafaurosyidin..yg baik ternyata nggak diamini oleh Rosulullah SAW bahkan Rosulullah SAW menolaknya...jadi..
    Lau Kaana Khairan Lasabaquuna Ilaihi nggak bisa jadi pegangan...mau tahu....cari di kutubus sitah...tapi ada perbuatan yg tidak dicontohkan Rosulullah dan didengar Rosulullah langsung atau diceritakan kepada beliau...maka Rosulullah memujinya...mau tahu...jamaaaaaahh...ada orang mau tahu....padahal udah baca bertumpuk buku.....

    BalasHapus
  11. Saudaraku sesama Islam.., sadarilah bahwa Islam sudah sangat sempurna (Allah sendiri yg memberitakan dalam firmanya di QS.Al Maidah 3)jadi tidak perlu ditambahi maupun dikurangi, Islam bukan untuk didebatkan tapi untuk dikaji, sebab kalau debat hanya untuk mencari menang (nggak ada yang mau ngalah), tapi untuk dikaji dicari akan kebenarannya, Coba sama-sama kita RENUNGKAN, Yang benar itu Adat, Tradisi dan Zaman yang mengikuti Al Qur'an atau sebaliknya Adat, Tradisi dan Zaman yang harus kembali kepada Al Qur'an, Sesuaikan jawaban dari hatimu dengan ucapanmu harus sama dan jujur, Allahlah yang akan mencatat isi hati kita, (Kajilah ya saudaraku semua), Mari semua Adat, Tradisi dan Zaman itu sama-sama kita Filter dengan Al Qur'an dan Hadits yg Shohih. Somoga kita semua akan diselamatkan dari api neraka dan akan mendapatkan surganya...Amien..

    BalasHapus
  12. Setelah kupikir-pikir benar mas...Yang benar itu adat, tradisi dan jaman yang harus kembali kepada Al Qur'an..trim's..

    BalasHapus
  13. Masalah muncul ketika penulis (H. Mahrus ali) tidak bersedia diajak berdiskusi terbuka sehingga kita kurang tau kevalidan datanya. Untuk teman2 warga nahdliyin, agar tidak ragu2 lagi dalam mengamalkan amalan an-Nahdliyah bisa membaca buku "Islam Tradisionalis" karya KH. Muhyiddin Abdushshomad Jombang. Bandingkan dg Kyai muhyiddin yg siap diajak bedah bukunya bahkan tanpa bayaran.

    BalasHapus
  14. saudaraku seiman bacalah artikel-artikel di www.firanda.com semoga bermanfaat

    BalasHapus
  15. jangan sok egois n keminter n ngrasa paling bener sendiri.ayo berpikir jernih.menurutku H mahrus ali ada benarnya.syukron ustadz atas karya2mu dalam meluruskan akidah islam ini

    BalasHapus
  16. Saya bukan NU, tapi karena ramainya membahas H.Mahrus ini saya justru semakin yakin dengan NU. Tolong yang Pro sama H.Mahrus lihat dulu video debat terbuka di IAIN Sunan Ampel, di youtube ada (debat terbuka NU - Wahabi, seri 1-8), di situ terlihat betapa pendukung H.Mahrus sangat dangkal ilmunya....gitu kok berani nulis buku.... naudzubillah

    BalasHapus
  17. Nampaknya, dua-duanya baik H Mahrus maupun NU perlu diluruskan. H Mahrus sebaiknya dpt hadir bila diundang diskusi buku, sampaikan saja scr ilmiah. NU jangan juga ngomong2 Wahabi. Omongan Wahabi itu rekaan Zionis yg mau memecah belah umat Islam dg mengecap Saudi Arabia sbg Wahabi. Ingat bermula dari Zionis Inggris, yg kerepotan menghadapi perlawanan kaum Muslim yg terjajah di India.

    BalasHapus
  18. ajaran yang menyalah-nyalahkan orang laen banyak penggemarnya, bahkan anak yang lulus SMA yang tidak kenal baca tulis Al-qur'an dan hadis sangat gemar dengan ajaran-ajaran tersebut. sehingga hanya bebekal berani bicara keras tanpa ilmu agama yang cukup mereka berani membid'ah-bid'ahkan ulama' yang keilmuannya sangat luas dan hati-hati dalam menjalankan ibadahnya.

    BalasHapus
  19. pak mahruis pak mahrus ilmuyg kau dapat dari mbah google bikin repot aja...ya allah semuga buku buku karya pak mahrus tidah akan pernah mewabahi pada keturunan hamba ,keluarga hamba,masyarakat hamba.ikhwaanul muslimiin walmuslimaat,ya ALLAH semuga engkau selalu melimpahkan kepada hamba akan pengetauhan dan ilmuMU yg maha luas.dng pemahaman yang amat cerdas. YAALLAH ampunilah hamba dan keturunan hamba dari ilmu yg tidak mamfa'at, YA GHAFFAR jadikan lah selalu ikhlas dan shobar sebagai hidayahMU pd hamba .aamiiin,aamiiin aamiiin. YAA MUJIIBASSAAILIIIN.

    BalasHapus
  20. ngalamat zaman akhir, alqur'an dan hadits dikira majalah po piye mudah dibaca dan dipahami, padahal alqur'an dan hadits harus dipahami mnrut pmhaman yg dketengahkan para Ulama karena qur'an dan hadits diriwayatkan dan diajarkan oleh beliau2 yang tentunya bersumber dari Rasululloh. bukan spt mbah mahrus yang seenaknya asal comot dalil tanpa menghiraukan asbabul wurud wannuzul, khilafiyyah ulama, furu'iyyah fiqh, dll. dan yang dimaksud bid'ah sekali lagi adalh sesuatu yang tidak bertendensi yang tidak sesuai dengan qur'an dan hadits bukan berarti bid'ah itu sesuatu yang tidak tercantum / tertera dalam qur'an maupun hadits..... seperti halnya tahlilan memang tidak ada anjuran tahlilan dalam alqur'an dan hadits karena itu tahlilan bukan termasuk bagian agama. Dan orang yang bilang tahlilan bid'ah berarti dia telah menambah-nambahi perkara agama, justru yang seperti inilah yang bid'ah. Yang menjadi bagian dari agama itu bukan acara tahlilannya tapi membaca kalimah thoyyibah, membaca qur'an, mendoakan mayyit, dan bersedekah untuk mayyit, inilah yang menjadi bagian dari agama dan ada tuntunannya, sekali lagi bukan acara tahlilannya..... Kalau lum jelas ngaji tuntas jangan hanya ngaku2 mengikuti al qur'an dan hadits karena alqur;an dan hadits itu sangat luas mencakup segala kegiatan manusia, maka ibadahpun sangat luas meliputi segala kegiatan dan gerak gerik manusia dan semuanya ada aturan mainnya. Jangan spt orang2 wahhabi yang mempersempit ibadah dan salah memahami arti bid'ah. ibadah ini pada hakikatnya bersifat esensial jadi harus cermat memahaminya jangan hanya melihat dhohirnya tapi pahami isinya. maka anda akan mengerti kalau orang buang air kecilpun bisa jadi ibadah kalau mngikuti anjuran Rasul, apalagi tahlilan yang jelas2 diisi bacaan qur'an, dzikir, dan sedekah. Hanya orang2 yang akalnya sempit dan ahli bid'ah yang mengatakan itu amalan bid'ah, tidak sesuai tuntunan dll...... MATATIL BID'AH BI QIYAMIL HUJJAH LI AHLISSUNNIYYAH.

    BalasHapus
  21. Tolong yang memuji-muji bukunya mahrus hendaknya mengaji lagi, apalagi dia mengaku dulunya warga NU, tapi dia tdk mau mendalami apa yang dia tdk fahami. mbok ya nanya sama kyai, ngaji lagi. nanya yang lebih jelas. klo hanya sekedar membaca, kedangkalan ilmu ente tdk bs menilai secara obyektif. bisa-bisa kayak tumal hakim yg mati gara-gara salah memahami buku yg dia baca. klo hanya mati dg membawa iman tdk terlalu berbahaya, yg berbahaya klo matinya tdk membawa iman dan aqidah yg benar. krn membaca buku yg salah yg menyalahi aqidah mayoritas.

    BalasHapus
  22. sudah2 jgn pd berantem yg jelas artikel ini sudah lari dr jalur sebenarnya.yg dipermasalahkan adalah 1)pelurusan masalah yg ditulis mahrus ali tentang amalan2 yg selama ini dilakukan oleh umat NU.2)seharusnya kyai thobary memberikan bantahan dg dalil shahih tulisan mahrus ali kareana sebetulnya bukan hanya mahrus ali yg mengatakan bahwa taklilan,tawasul pd mayat,mendatangi kuburan untuk minta berkah dll namun masih banyak kyai dan ulama didunia dr dulu sampe skrng yg mengatakannnya.3)kyai thobari nggak usah mempermasalahkan mahrus ali orang nu ato bukan tapi kasih kami pencerahan dg dalil yg shahih tentang permasakahan yg diangkat mahrus ali.pd AULA ATO KYAI,GUS,HABIB DAN LAIN2 KASIH TANGGAPAN ATO ARTIKEL ATAU SEKALIAN BUKU KEPADA PERTANYAAN ANONIM YG DIPOSTING 25 Juli 2011 15:54 INI HUKUMNYA WAJIB KRN JIKA TDK DIJAWAB MAKA KALIAN AKAN MENJERUMUSKAM KAUM NU KEDALAM JURANG KESESATAN.MAAF, saya tertarik dg kata sarkub(SARJANA KUBURAN),KATA bahwa gus cecep mampu melihat alam ghaib berarti gus cecep lebih hebat dari shahabat nabi SAW,bahkan nabi SAW dimana nabi SAW mengatakan bahwa beliau SAW tdk mengetahui alam ghaib selain yg diperlihatkan ALLOH SWT saja,Menakjubkan.HEBAT GUS.ilmu gus cecep dari mn??yg sama sampeyan setan apa iblis??/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dikirain mau melerai yang berantem ternyata ikut mukul juga

      Hapus
    2. Jangan merendahkan Nabi SAW, beliau adalah seorang rasul terakhir. jika beliau tidak mengetahui yang ghaib/alam jin bagaimana beliau mendakwahkan islam.
      Ingat, Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah.
      Siapakah yang mendakwahkan islam kepada jin kalau bukan Rasulullah SAW? Hanya keterbatasan kita tidak tahu yg ghaib.

      Hapus
  23. Sebagai orang awam saya sangat tidak tertarik dengan dalil-dalil. juga sangat tidak tertarik dengan ungkapan si anu menagatakan ini dan si anu mengatakan itu....tapi duduk sambil membaca qur'an disamping makam orang sholeh kemudian membuat hati lebih tentram lebih saya suka daripada duduk di pinggir jalan menikmati kepulan asap rokok dan secangkir kopi hangat...

    BalasHapus
  24. MOhon untuk admin, komentar yang merugikan warga NU yang masih awah di hapus saja.... trimakasih.

    BalasHapus
  25. yg salah itu penerbitnya,masak mantan kiai
    nu koq kayak dukun spt ki joko bodo.wkwkwk.seharusnya judul bukunya MANTAN DUKUN SANTET MENGGUGAT.wkwkwk

    BalasHapus
  26. Semua kiat bisa menilai mana buku yang bermutu mana muku yang murahan alias tidak ilmiah. Kita kan punya guru yang sanadnya sampai Rasulullah, mengamapa ragu menjalankan ibadah seperti mereka, kecuali orang yang yang ilmunya hanya yang diperoleh dari buku, ya ngak jelas keturunannya, anak aja suka dibilang anak haram, kalau ilmu yang diperoleh orang tidak jelas, pantasnya dibilang apa. Siapa sih yang yakin diantara kita bahwa kita yang paling benar. hanya Nabi yang benar muthlak. Jadi pegang aja keyakinan masing2 kenapa ngurusin yang ngak penting. Wallahu A'lam.

    BalasHapus
  27. Kita penting pelajar Islam, tetapi lebih penting lagi belajar Islam dari siapa. Kadang kita percaya kepada orang ketemu di jalan, selebaran, photo copian, dll. Hadits aja diteliti setelitinya, karena hadits adalah berita yang "Yahtamilu As-Shidq wa al-Kidzb" maka diteliti siapa yang bawanya, itu Sabda Nabi, ini pendapat dan ucapan orang biasa masa kita langsung caplok bulat2 100%. Jadi mari kita tabayun dulu. Agama itu bukan resep makanan atau cerpen yang seenaknya ditulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin maksud Anda : "Kita penting belajar Islam, tetapi lebih penting lagi belajar Islam dari siapa", Saya setuju itu, karena agama atau keberagamaan seseorang tergantung dari siapa dia mengambil, meskipun sama-sama Islam dan sumber yang sama juga yakni Al-Quran dan Al-Hadits. Makanya orang tua hati-hati menyekolahkan anaknya, jangan sampai terjerumus kepada yang suka menyalahkan orang, memusrikkan, membid'ahkan bahkan mengkafirkan. Naudzubillah min dzalik

      Hapus
  28. SANGAT SETUJU 99.9% Dengan pendapat Anonim Feb 1, 2012 07:31 PM.

    Ilmu merupakan sebuah warisan dari guru ke muridnya, dari murid menjadi seorang guru yang dapat mewariskan ilmu-ilmunya ke murid-muridnya, jadi terdapat sebuah alur nasab ilmu yang di dapatnya dari siapa dan dari siapa hingga sumbernya dari siapa.

    Menyikapi komentar "lihat internet / tautan di internet" apakah bisa di pertanggung-jawabkan ke-ilmu-annya? Siapa yang menulisnya, dari mana, shohihnya, tinjauan ushul fiqh nya, ijtihad mujtahid terdahulu,tinjauan tafsir hadist & qur'an, masìh banyak yang perlu di pelajari lagi.
    E...e...e... Lha dalah.., kok ini cuma cukup tanya mbah google saja sudah di jadikan sebuah hukum tentang bid'ah dan meng-kafir-kan golongan lain.

    Memang benar apa yang di sabdakan oleh Nabi SAW Bahwa "Zaman akhir umat islam akan pecah menjadi beberapa bagian, dan hanya 1 yang benar yaitu Ahlussunah wal jamaah"

    Lakum diinukum wa liadin

    By: cat_rozz@yahoo.com

    BalasHapus
  29. saya Ikhyak Ulumuddin bangga dan salam ta'dzim dengan kyai NU yang benar benar mengerti ilmu kitab, alqur'an dan mengamalkannya. walau kakek nenek saya difitnah tidak NU, tapi bilau beliau dengan senyum dan lapang dada menerima. hikmah yang saya ambil, kita jangan mudah terpecah belah, yang tidak mengetahui diam dari pada timbul makin banyak fitnah.pelajaran keluarga kami jadi tauladan. alm KH Ihsan Fadhil watucongol, selalu terfitnah, teraniaya namun tetap tegar. JANGAN MUDAH MENYALAHKAN ORANG LAIN , BILA ANDA MAMPU MENYALAHKAN HHARUS MENGETAHUI JALAN BENARNYA. INDONESIA MAYORITAS ISLAM, AGAMA DAN NEGARA LAIN TIDAK RELA INDONESIA MAJU. ulumuddin10@yahoo.com

    BalasHapus
  30. terlalu fanatik itu juga tidak baik. Sekarang contohnya, begini jika ada seorang NU tulen, terus menganggap seseorang beraliran lain (contohnya: wahhabi) kan pasti orang itu tadi menganggap orang yang tidak segolongan dengannya itu jelek/ sesat/ alirannya salah, maka itukan bisa disebut berprasangka buruk/ su'udzon, kan kalau kita sudah berdosa.

    BalasHapus
  31. Sudahlaaaaaaaaaaaa......... Seperti umumnya saja, orang mau jadi muslim, musyrik, perampok, koruptor, atau apalah terserah pada dirinya. Mau jadi NU, or non NU terserah. Anda tak kuasa apapun terhadapnya. Adanya perbedaan sudak ditakdirkan. BABAR BLAS. TAK ADA KUASA APAPUN!!!!!!!. Yang sangat perlu adalah kajian tentang bagaimana sikap yang baik menghadapi perbedaan.

    BalasHapus
  32. aku berlindung kepada ALLOH dari setan yang diranjam,
    aku berlindung kepada ALLOH dari perdebatan yang menyesatkan,
    aku mulai aktifitas sehari-hari dengan menyebut Nama-Nya,
    Allaahu,Allaahu,Allaahu,ku baca,ku renungi,ku amalkan ku mencintaiNya
    ku berharap ampunan-Nya dari banyaknya perdebatan dan perselisihan sesama saudara se iman,
    Ya Alloh,karuniakan kepada kami semua kerukunan dan kedamaian dalam ikhtilaf dan perbedaan,Amin...

    BalasHapus
  33. Tidak puas hanya lewat dunia maya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Husna Periuk Jaya Tangerang, Banten itupun “ngeluruk” ke rumah H Mahrus pada 22 November 2010. Bersama Gus Cecep dari Tebuireng, Habib Fikri, kenalan di dekat rumah H Mahrus Ali dan seorang sopir ia mendatangi rumah H Mahrus, dengan terlebih dahulu bertamu pada keponakannya, H Mahmud Ubaid. Gus Cecep adalah cucu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Semasa hidup Gus Dur ia paling sering diajak mendampingi sepupunya itu saat ke makam para shalihin. Tidak heran kalau ia mendapatkan panggilan Sarkub, alias sarjana kuburan. Dunia gaib seakan menjadi kehidupan sehari-hari alumnus Pondok Modern Gontor tersebut. Tanpa kesulitan yang berarti, akhirnya mereka bisa bertemu dengan tuan rumah H Mahrus Ali.


    """"""""++++++++BANYAK AMALAN ORANG YANG BERBUAT SYIRIK+++++++"""""""""

    BalasHapus
  34. Gw mah kafir aja ah,Tuhan gk kelihatan ko..ngapain diperdebatkan,bego kalian semua....

    BalasHapus
  35. saya orang awam ketika bicara islam seutuhnya tapi saya warga negara yg ngerti hukum dan negara kita negara hukum, kalo emang apa yg disampaikan mahrus ali salah ya sebaiknya dibawa ke ranah hukum biar clear semua, siapapun orangnya atau golongannya kalo emang bikin resah ya harus di hukum kalo hukumnya yg g jalan ya perlu hukum rimba aja kita bantai rame-rame,

    BalasHapus
  36. buat yang ga' suka sate ga' usa nyaci yang lagi makan sate n yg lagi makan sate nikmatin aza, toh kita yg tahu nikmatnya sate. Lana a'maluna wa lakum a'malukum. masih banyak yang perlu kita pejuangkan bersama dari pada geger urusan khilafiyah...masih banyak kemungkaran bahkan pemurtadan yang kita sepakati terjadi disekitar kita

    BalasHapus
  37. Membongkar Kebohongan H Mahrus Ali dan Rekayasa Busuk Wahabi, Klik: http://agama.kompasiana.com/2010/12/16/membongkar-kebohongan-h-mahrus-ali-dan-rekayasa-busuk-wahabi/

    BalasHapus
  38. Membongkar Kebohongan H Mahrus Ali dan Rekayasa Busuk Wahabi, Klik: http://agama.kompasiana.com/2010/12/16/membongkar-kebohongan-h-mahrus-ali-dan-rekayasa-busuk-wahabi/

    BalasHapus
  39. Ndak kan selese kecuali dunia ini berakhir, mari warga nahdliyyin perkuat aqidah kita, amankan aset kita, perkuat organisasi kita biar gak mudah terombang-ambing.... na'udzu billah min dzalik.

    BalasHapus
  40. ' saya yakin KH Mahrus Ali adalah orang yang baik, pintar, cerdas dan berilmu (agama) tinggi, namun kenapa kok beliau tega mengatakan bid'ah ataupun sebutan lainnya secara sepihak kepada saudaranya yang sesama muslim cuma lewat buku tanpa adanya penjelasan lebih lanjut layaknya pecundang? sebagai lelaki tulen seharusnya beliau siap bertanggung jawab (klarifikasi) terhadap setiap yang diucap dan lakukan apalagi itu sdh menyangkut pd ranah agama serta khalayak umum. beliau mengakui sbgai ahli sunnah sejati tapi dimana bukti beliau mengakui itu (sebagaimana Rasulullah diminta membuktikan kebenaran Islam dihadapan kaum kafir quraisy beliau dengan tegar berdiri menyampaikan kebenarannya meskipun dengan 1001 resiko buruk terhdp keselamatannya) sebaliknya manakala ada permintaan untuk klarifikasi terhadap 'karyanya' beliau (KH mahrus ali) mbulet tidak jelas. inikah yang dinamakan ahlusunnah sejati???(ini adalah contoh yang sngat sederhana). Islam ditebarkan keseluruh alam adalah sebagai rahmat dg perantara Muhammad SAW yang akhlaknya lemah lembut, sopan, bijaksana, hormat terhadap orang tua, bertanggung jawab, penyantun, pemaaf (meskipun terhadap orang2 yang jahat kepadanya), toleran terhadap siapa saja dan ( sngat banyak lagi...)melalui sikap (Muhammad SAW) inilah Islam dibumikan. dan yang jd pertanyaan saya pribadi atas sikap manakah beliau KH mahrus ali mengaku sbgai ahlusunnah kalau akhlaknya seperti itu? apalagi gampang banget bilang bod'ah-bid'ah cuma lewat buku tanpa ada pertanggungjawaban sama sekali babar pisan!

    saya berdo'a smoga beliau (KH mahrus ali) sll sehat wal afiat dan dianugerahi rahmat serta hidayah Allah SWT. amin

    BalasHapus
  41. Amalmu untukmu amalku untukku. Satu sama lain saling menghormati keyakinan. Hanya Allah-lah yang berhak menentukan kebenaran, karena Dialah Sang Maha Kebenaran. Tuhan Sang Maha Pencipta Alam. Para Ulama NU dalam beribadat memiliki dasar, begitu pula yang lainnya seperti Salafi, Muhammadiyah, LDII, Syiah memiliki dasar masing-masing. Perbedaan adalah suatu Rahmat dari Allah. Beribadahlah sesuai keyakinan dan keimanan masing-masing tanpa harus saling menyalahkan dan saling "mengkafirkan". Semoga Allah meridoi jalan kita semua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. perbedaan itu bisa menimbulkan konflik..kok rahmat...apa lalu kalau persamaan jadi laknat...

      Hapus
  42. berusaha jadi sunny11 Oktober 2012 16.17

    Dasar wong Indonesia pengecut ! Mbok kalau ngajak debat wahabi langsung ke syeikh-syeikhnya di Arab. Wong yang punya ide dan biaya untuk nyebarkan wahabi di INA itu kan orang arab. Jadi jangan kasar-kasar dong sama wahabi INA. Faktanya banyak kisah orang wahabi INA di kasari, di massa dan terjadi di Indonesia.

    BalasHapus
  43. itulah yg bikin kita ini kaga maju maju masih saja ngributin tahlil atau tidak qunut atau tidak ziarah kubur atau tidak wahai poro sedulur kalau sama sama kaga ngerti agama ga usah pada sok ngerti lihat tu bagamana para ulama besar seperti imam Abu hanifa imam Maliki imam Syafii imam Ahmad mereka itu orang orang pandai makanya kaga ribut melulu kaya ente ente itu

    BalasHapus
  44. lucu... ustads-ustads internet lagi debat.
    klo pengen belajat hadist, datang aja di pp. darul hadist kota malang. ntambung sampai sanadnya.

    BalasHapus
  45. saya sdh pernah buku salaf yg dicap wahabi...dan ada beberapa pendapat Mahrus ali yg berbeda/menyelisihi dengan buku2 tsb..jd sptnya mahrus ali ini sekte tersendiri..juga saya pernah baca buku2 NU... dan sepertinya yg saya anggap paling baik adalah karya2 pendapat ulama/tokoh2 NU terdahulu..bukan yg belakangan...bahkan sebagian pendapat tokoh2 NU belakangan sangat bertentangan dg pendapat tokoh2 NU generasi awal..

    BalasHapus
  46. namanya mantan kyai harus dimaklumi, karena mendingan mantan penjahat, kalo mantan kyai ya pikir sendiri pye toooooo

    BalasHapus
  47. sering mendengar sesama muslim saling mengkafirkan, malah tidak pernah mengkafirkan orang kafir, yang sudah islam suruh masuk islam lagi, malah nggak mengislamkan orang kafir, pancen wis keblinger wong sing ora melu kyai (mosok melu mantan kyai)

    BalasHapus
    Balasan
    1. masalah kafir,telah jelas di Al-Qur'an...apakah anda tidak percaya ?

      Hapus
  48. Buat yg getol-getolnya nyerang Ustadz Mahrus Ali, ini jawabannya!

    http://mantankyainu.blogspot.com/2013/05/inancell-tebar-fitnah.html

    BalasHapus
  49. Majalah "AULA" = "Akal Ulama LAncang" terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits nabi, yang PD sekali ajarannya lurus, tapi banyak tokohnya yang terlibat masalah serius, korupsi Al Qur'an, Pencabulan Santri, Sodomi santri, Perselingkuhan dll. Sedangkan yang degembar-gemborkan (Wahabi) sebagai jamaah takfiri, mana saya dengan melakukan tindakan macam itu? Kenapa Negeri yang dianggap penganut paham "Wahabi" mempunyai dua kota yang tak disinggahi Dajjal? Bukan di Daerah yang akidahnya "merasa lurus" Jawa Timur? Justru di Jawa Timur terjadi banyak fitnah? Dari Ponari, Lumpur Lapindo dll.

    BalasHapus
  50. semoga dapat membuka mata para kyai NU agar mau menggali Islam lebih dalam lagi dengan dalil2 yang shahih.....bukankah buya Hamka juga pernah mengatakan hal yang sama dengan pak H.Mahrus Ali?apakah buya Hamka tidak punya ilmu?
    mulailah para kyai NU membuka dengan jujur ajaran2 asli Rasulullah S.A.W , jangan silau dengan gemerlapnya dunia....jangan silau dengan sanjungan2 ....sanjungan ALLAH lebih baik dari pada sanjungan dunia dan seisinya.....

    BalasHapus
  51. mungkin saja pak Mahrus kurang Ilmunya,tetapi dengan ilmu yang sedikit, dia lebih jujur dan terbuka dalam mengakui sumber2 ilmunya...berbeda dengan para kyai NU,jika ditanya dalil dan dia tidak tahu,pasti jawabannya "sami'na wa a'ta'naa, jangan tanya2, ikuti aja,nanti kuwalat!"....contohnya jika ditanya tentang dalil sahahih maulid,tidak ada satupun kyai NU yang dapat menjawab secara ilmiah dan otentik.....

    BalasHapus
  52. mengenai tudingan Wahabi...apakah anda pernah tahu buku2 Syech Muhammad bin Abdul Wahhab? siapa beliau?coba doong bedah buku nya...jangan hanya asal tuding dengan penuh nafsu kedengkian .....ayo mencari kebenaran, jangan mencari pembenaran!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata mbah google sih...

      Hapus
  53. aku ikut orang sufi aja ,cinta damai.

    BalasHapus
  54. menurut pendapat ku aliran keras yg suka memelihara jenggot yg berasal dari nejed,org yg membuat aliran ini mengalami kegalauan dlm khidupan pribadinya semacam tizoid dsb sehingga mngalami waham atau menemukan keyaqinan baru dan radikal.akirnya brjalanlah keyaqinan itu smpai skrang. aku menyamar dan masuk udah dua tahun kedalam majlis mereka sampai pernah ikut dauroh di pp al furqon sedayu gresik,mrka orgnya baik baik,aku pun ikut berjenggot.skrng aku cukur abis,aku ikut ikut jamaah cinta damai aja ah sprti rottibulalhadd. by ahmad bejo al ishaqi boromania.

    BalasHapus
  55. Anda sendiri juga jangan mau didoktrin oleh Guru anda yang memprofilkan dia sebagai mujaddid..... padahal sejarah mencatat dia itu sebagai mufsidun dan pembunuh
    sudah Baca KASYFUS SYUBUHAT_ karyanya Ibnu Abdil Wahhab belum ???? Kitab yang berisi caci maki dan pengkafiran kepada Para Ulama' !!!
    Dan jejak itu diikuti pula oleh bin Baz dan alBany dalam karya-karya mereka....!! Penuh amarah caci maki dan pengkafiran kepada sesama umat Islam bahkan Ulama'nya

    BalasHapus
  56. saya tak bikin buku " Ajaran sesat NU" agar bisa kaya dan terkenal , dan kalau diajak debat tentang buku itu tak pasang tarif mahal supaya batal debatnya, dan yang pasti minta dukungan para penggemar Wahabi, isinya tinggal copy paste dari internet, dan yang pasti para wahabi yang ilmunya selevel saya akan terkagum-kagum...setuju

    BalasHapus
  57. Ya Allah, saya (hamba-Mu) yang bodoh ini benar-benar bingung sekarang, manakah yang sejatinya benar. Hamba ingin mengikuti ajaran Rasul-Mu yang murni dan putih, namun kini begitu ramai diperdebatkan hingga mata hamba kabur manakah yang benar-benar masih puti. Benar-benar hamba kini laksana satu buih ditengah sekumpulan lainnya yang diombang-ambingkan permukaan lautan. Ampuni hamba atas kebodohan hamba Ya Allah.

    BalasHapus
  58. islam radikal. kalo ngerasa dah bener mending diem aja, nanti toh pasti kebenaran bakal terlihat sendiri, bukan dengan cara mengkafirkan orang lain yang tidak sefaham, kalo gk seneng dengan suatu faham ya udah, jangan selalu memancing emosi.. nama juga beda, gak mungkin sama, kalo emang yakin aliranya benar2 murni 100% kenapa gak sekalian naik haji pake kendaraan unta? atau bkar semua qur'an yang ada di rumah? dan tulis sendiri pake tangan di atas kulit hewan? kan gak ada haditsnya baca qur'an pake qur'an print2an kan? kalo waktu sholat ya harus liyat matahari, jangan berdasarkan jam dinding, itu kan bid'ah? trus kalo zakat fitrah ya harus pake gandum juga dong? gosok giginya pake kayu yaa? jngan pke pasta gigi, itu bid'ah,.. trus lagi kalo adzan naik aja di atas gunung, jangan pake speaker, bid'ah juga itu.

    BalasHapus
  59. Bismillahirrahmanirrahim
    Assalamu ‘Alaikum Wr. Wbr.
    Mas Halim Alwie (2) menulis:
    Jawaban bahwa Buku-buku terbitan CV. Laa Tasyuk ! Press, Surabaya adalah Buku-Buku Sesat Buatan Aktifis Wahhabi di Indonesia.

    Laa Tasyuk ! Press, asal kalimatnya: Laa Tasyukka artinya “Jangan Ragu !”
    mottonya “Laa Tusyrik Billah !” atau “Janganlah Engkau Menyekutukan Allåh !” (diambil dari Surat al-Luqman ayat 13), menghunjam di dalam dada dan harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak generasi penerus kita, ia Dakwah Yang Pertama Dan Utama Para Nabi.

    Pemiliknya adalah Ustadz Halim, Ustadz Halim adalah seorang NU Toelen, pernah punya Kartanu yang ditandatangani oleh KH. MA. Sahal Mahfudz dan KH. A. Hasyim Muzadi, dan KTA. PKB yang ditandatangani oleh KH. Abdurrahman Wahid dan Drs. H. Mathori Abdul Djalil, dan KTA PKB yang ditandatangani oleh H. Matori Abdul Djalil dan Drs. A. Muhaimin Iskandar, bahkan pernah difoto untuk pembuatan KTA. PKNU. Jadi kalau ada tudingan bahwa Ustadz Halim Termasuk orang PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang beraqidah Wahhabi adalah Kedustaan yang nyata.

    Komentar KH. Mahrus Ali: Standart penilain dalam Islam adalah al-Quran dan al-Hadits yang shåhih, bila sesuai dengan al-Quran dan al-Hadits yang shåhih, maka benar dan harus diikuti, bila tidak ada dalilnya, maka ia sesat dan menyesatkan dan harus dibuang !

    Perlu diketahui, bahwa semua dalil-dalil di dalam buku kami “Serial Mantan Kiai NU”, baik yang pertama maupun yang sedang kami susun, saya upayakan sebaik mungkin, saya kelompokkan satu tema pembahasan, dan Insya Allåh tepat sasaran, saya pilihkan yang benar-benar shåhih berdasar kajian dan penelitian saya, hasil penelitian tersebut masih kami cros cekkan dengan pendapat ulama-ulama yang muktabar. Saya jamin tidak ada dalil yang dipaksakan, tidak ada nuansa golongan.

    Artinya dari Siapapun Ulamanya dan dari manapun Madzhabnya, kalau Perbuatan, Ucapan dan Pengakuannya sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah al-Shåhihah maka harus kita terima, sebaliknya dari Siapapun Ulamanya dan dari manapun Madzhabnya, kalau Perbuatan, Ucapan dan Pengakuannya tidak sesuai atau bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah al-Shåhihah maka harus dibuang atau jangan diikuti.

    BalasHapus
  60. Bismillahirrahmanirrahim
    Assalamu ‘Alaikum Wr. Wbr.
    Mas Halim Alwie (3) menulis:
    Berbeda dengan Kyai, Habib, Tuan Guru atau Ustadz yang berfaham Aswaja ala NU, Umumnya mereka menolak Firman Allåh dengan Hadits Nabi, atau menolak Hadits Nabi yang Shåhih dengan Perbuatan, Ucapan dan Pengakuannya Ulama.
    Padahal hukum dalam al-Islam, kalau itu Firman Allåh, maka semua makhluk yang hidup di Bumi Allåh harus tunduk dan patuh terhadap hukum yang telah ditentukan oleh Allåh, tak terkecuali manusia yang bernama Muhammad.

    Begitu juga Sabda Råsulullåh, kalau itu Hadits yang shåhih, maka tidak bisa digugat, dibatalkan atau diberi catatan kaki oleh Ulama, siapapun ulamanya dan dari manapun madzhabnya, walaupun Ulama tersebut termasuk Ulama yang Hafidz, Mufassir, Ahli Hadits, Faqih dan Alim terhadap Islam, tetap tidak bisa membatalkan dan memberi catatan kaki terhadap Hadits yang Shohih.

    Kewajiban kita adalah belajar, belajar dan terus belajar dengan bimbingan ulama yang lurus yang bisa membedakan mana Hadits Shåhih, Hadits Dhåif dan mana Hadits yang masuk kategori Maudhu’ atau Palsu!

    Kalau kita tidak bisa menilai kwalitas hadits, apakah Hadits itu Shåhih atau Dhåif bahkan Maudhu’, maka akibatnya ya seperti sekarang ini, kita sulit membedakan, mana yang ajaran Hindu, Budha, Khonghucu dan mana yang ajaran Syi’ah, karena mereka menganggap ritual-ritual atau ajaran-ajaran Hindu, Budha, Syi’ah dan Khonghucu tersebut dianggap baik (bid’ah hasanah) dan bahkan bernilai sunnah, akhirnya Agama Islam ini rancu campur aduk dengan ajaran Hindu, Budha, Khonghucu dan Syi’ah, padahal nyata-nyata ajaran tersebut bid’ah, syirik dan kufur kepada Allåh.

    BalasHapus
  61. Bismillahirrahmanirrahim
    Assalamu ‘Alaikum Wr. Wbr.
    Mas Halim Alwie (4) menulis:
    Mengenai KH. Mahrus Ali
    Hendaknya si pengampu blog membaca: Majalah NU “Aula” No. 11 Tahun XXVIII Nopember 2006, hal. 15 disitu disebutkan: Namanya Mahrus Ali. Ada yang memanggilnya: Syeikh Mahrus, Kiai Mahrus, Ustadz Mahrus, Cak Haji atau Haji Mahrus.

    Atau baca tulisan saudara Zainul di http://www.nu.or.id yang menulis sebagai berikut: KH. Mahrus Ali ini Bernasab NU kolot/tradisional, dari keluarga Kiai (Adik KH. Mujadi, Pimpinan Pondok Pesantren KH. Mustawa, Sepanjang. Menantu Kiai Imam Hambali, beliau merupakan Tokoh NU/Anggota Syuriah NU yang cukup disegani di daerah Waru, adik Ipar KH. Hasyim Hambali Pimpinan PP. Asy-Syafi’iyah dan juga Adik Ipar dari KH. Abdullåh Ubaid Pengasuh PP. Mambaul Qur’an, Waru Sidoarjo).

    Kini KH. Mahrus Ali bersinergi Dengan Penerbit Laa Tasyuk Press, yang dikomandani oleh Ustadz Halim, perlu diketahui Ustadz Halim adalah Cucu dari KH. Mudjri Dahlan Bin KH. Dahlan Ahdjad (Wakil Rois Akbar NU Tahun 1926, Pendiri Majlis A’la Indonesia/MAI-penb.) Bin KHM. Ahdjad. Ustadz Halim adalah termasuk keluarga besar Haji Burhan, Bani Ahdjad, Bani Ahmad dan Bani Wasidin dimana dikeluarga besarnya tersebut Tradisi Ke-NU-annya sangat kuat. Bahkan Aset keluarganya (Lembaga PendidikanTaswirul Afkar, Surabaya) pernah dijadikan tempat penggodokan cikal-bakal berdirinya Nahdhlotul Ulama.

    Akan tetapi KH. Mahrus Ali bukan Laa Tasyuk Press, Laa Tasyuk Press juga bukan KH. Mahrus Ali, hal ini tertulis jelas dalam buku yang diterbitkannya: “Tak Ingin Jadi Kiai ?” Halaman: 10-11, dikatakan: Penerbit menggali ke-ilmu-an beliau-beliau para kiai (diantaranya: Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, beliau termasuk pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren “Råhmatullåh” dan Mantan A’wan Syuriah MWC NU Kandangan-Kediri. Bapak Drs. H. Buchari, Mantan Hakim Tinggi di PTA. Serang-Banten, beliau mantan aktivis NU sejak tahun 1965, dan sampai hari ini masih tercatat sebagai Mustasyar MWC NU Tanggamus dan tokoh-tokoh lainnya) yang dahulu beliau kaji dan dakwahkan, adakah yang keliru? dan mengapa beliau-beliau meninggalkannya? Karena beliau-beliau inilah yang lebih tahu tentang kebid’ahan, kesyirikan dan kekufuran amalan-amalannya atau ubudiyahnya yang terdahulu, padahal jujur saja amaliah-amaliah tersebut dahulunya sangat beliau gandrungi dan juga menghasilkan uang yang cukup menggiurkan.

    Sedangkan untuk mengawal naskah-naskah Para Tokoh yang telah bertobat dari amaliah-amaliah yang bid’ah, syirik dan kufur kepada Allåh, sebelum kami terbitkan naskah-naskahnya kami murojaahkan, tashihkan atau kami periksakan dan telitikan pada Ustadz-Ustadz yang betul-betul faham tentang al-Islam dan pemahaman al-Islamnya sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah ala Fahmi Salaf, atau biasa disebut dengan istilah Manhaj Salaf, agar Laa Tasyuk Press betul-betul steril atau bebas dari firqoh-firqoh yang menyimpang dari Manhaj Salaf.

    Kawalan beliau-beliau ini kami wajudkan dalam bentuk Foot Note atau Catatan kaki. Salah satu diantara yang mengawal Naskah-Naskah dari Laa Tasyuk Press adalah: Ustadz Musthofa Ahmada, Lc.

    BalasHapus
  62. Bismillahirrahmanirrahim
    Assalamu ‘Alaikum Wr. Wbr.
    Mas Halim Alwie (5) menulis:
    Ini Mas Ajaran yang terbaru KH. Mahrus Ali Tentang Bid’ah Hasanah
    KH. Bisri Musthofa pernah menulis: Saya pernah dengar hadits: “Semua bid’ah itu sesat.” Tetapi saya juga dengar dari kiai-kiai katanya bid’ah itu ada bid’ah hasanah dan ada bid’ah sayyiah, mana itu yang benar? Kalau bid’ah Dhålalah itu lafadnya umum, tiap-tiap lafad umum yaitu biasanya kemasukan takhsis. Contohnya: “Segala sesuatu itu dibikin dari air.” Apakah malaikat juga dibikin dari air? Iblis apakah dari air ? ……..

    Komentar KH. Mahrus Ali: Hadits tersebut (“Semua bid’ah itu sesat.”) tercatat dalam Shåhih Ibnu Khuzaimah Nomor: 1785, hadits semakna juga tercatat di Shåhih Muslim No. 1435, Sunan al-Nasa’i No. 1560, Sunan Abi Dawud No. 2565, Sunan Ibni Majah No. 44 & 2407, dan Musnad Ahmad No. 1364.
    Berdasar hasil kajian dan penelitian Para Ulama, Hadits-hadits tersebut berderajat “Shåhih”, baik dari segi matannya (redaksinya) maupun dari segi sanadnya (mata rantai periwayatannya).

    Arti “Semua Bid’ah” adalah seluruh bid’ah tanpa kecuali atau tanpa catatan, karena Haqqut Tasyri’ (Hak Menetapkan Syariat), yakni Allåh, tidak pernah membatalkan, misalnya dengan mengatakan bahwa: “Semua bid’ah itu sesat, kecuali ini ….... dan itu …….” baik dalam firman-Nya (al-Quran), maupun lewat Råsul-Nya, yang terhimpun dalam Kutubut Tis’ah (Sembilan Kitab Hadits, yakni: Shåhih al-Bukhåri, Shåhih Muslim, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Abi Dawud, Sunan Ibni Majah, Musnad Ahmad, Muwaththå’ Imam Malik dan Sunan al-Darimi).

    Jadi kalau Hadits tersebut diatas berderajat Shåhih, dan Haqqut Tasyri’ (Hak Menetapkan Syariat), yakni Allåh tidak pernah membatalkan atau memberi catatan terhadap Hadits tersebut, maka Hadits tersebut bersifat final dan mengikat, tidak boleh digugat, atau digugurkan dengan Ijtihad atau Perbuatan, Ucapan dan Pengakuan Ulama, siapapun Ulama-nya!

    Artinya semua makhluk yang hidup di bumi Allåh wajib patuh dan tunduk terhadap hukum yang sudah ditentukan oleh Allåh lewat Råsul-Nya, Muhammad, namun karena Amaliah yang bid’ah ini kadung digandrungi dan kadung menghasilkan uang, maka mereka dengan sekuat tenaga mempertahankannya, mereka berputar-putar kesana kemari mencari dalil pembenarannya.

    BalasHapus
  63. Bismillahirrahmanirrahim
    Assalamu ‘Alaikum Wr. Wbr.
    Mas Halim Alwie (6) menulis:
    Bahkan ketika taklid buta mendera, ketika fanatisme golongan telah menggumpal dalam dada, maka yang muncul adalah sebuah pembelaan dan pembenaran buta, tak peduli dasar atau hujjah pembenaran yang digunakan adalah hadits lemah, palsu dan cerita-cerita khuråfat.
    Kadang Ayat-ayat Allåh dan Hadits Råsul-Nya, Muhammad diselewengkan, kadang makna asli hadits ditafsiri menurut akal pikiran sendiri atau diselaraskan dengan kepentingan golongan.

    Mengapa Antum tidak mencukupkan diri dengan perintah dan larangan Allåh, yang ditunjukkan lewat Perbuatan, Ucapan dan Pengakuan Nabi yang terhimpun dalam hadist-hadits shåhih ? Akan tetapi Antum malah menyalahkan dan melakukan pembelaan dan pembenaran buta ………… (Dikutip dari buku: Membongkar Kesesatan Kyai-Kyai Pembela Bid’ah Hasanah, buku terbaru KH. Mahrus Ali: Shalawat Gusdur ? (Buku + CD) & Aswaja Kok Nyembah Kuburan ya !? (Buku + CD) Terbitan CV. Laa Tasyuk! Press, Laa Tusyrik Billah!).

    Demikianlah… mohon maaf lahir bathin, minta rela dan ridhå atas kekhilafan dan kesalahan kata… Semoga Allåh mengampuni kita… bila mau menghubungi saya… boleh di FB Mas Halim Alwie.

    Wassalamu ‘Alaikum Wr. Wbr.

    BalasHapus
  64. Bismillahirrahmanirrahim
    Assalamu ‘Alaikum Wr. Wbr.

    Mas Halim Alwie (1) menulis:

    Tuduhan bahwa Salafi Wahabi menjerumuskan orang-orang Islam yang ada di Indonesia kedalam kubangan lumpur kemusyrikan dan kekafiran, selain tertuju pada Salafi Wahhabi, maka tuduhan tersebut juga tertuju pada “Departemen Agama Republik Indonesia (DEPAG RI)” karena semua al-Quran dan E-Pen al-Qur’an, baik yang terjemah maupun yang tafsir yang dikeluarkan (Stempel Tanda Tashih) oleh “DEPAG RI” juga mengusung “Aqidah Sesat Tajsim” aqidah khas Salafi Wahhabi yang dapat menjerumuskan orang kedalam kubangan lumpur kemusyrikan dan kekafiran.

    Kalau fitnah dan tuduhan keji “Thariqat Sarkubiyah Wa Dzuriyyah” ini benar, maka institusi “DEPAG RI” harus dibubarkan, karena menjerumuskan orang-orang Islam yang ada di Indonesia kedalam kubangan lumpur kemusyrikan dan kekafiran. Selain dibubarkan, maka “DEPAG RI” juga harus membeli kembali semua al-Quran dan E-Pen al-Qur’an, baik yang terjemah maupun yang tafsir yang telah dibeli baik oleh penduduk Indonesia sendiri, maupun yang telah diexport ke Manca Negara.

    Hal ini disebabkan karena semua al-Quran dan E-Pen al-Qur’an, baik yang tafsir maupun yang terjemahan yang dikeluarkan (Stempel Tanda Tashih) atau yang diterbitkan oleh “DEPAG RI” sendiri, juga mengusung “Aqidah Sesat Tajsim”, aqidah khas wahhabi yang dapat menjerumuskan orang kedalam kubangan lumpur kemusyrikan dan kekafiran, misalnya: Allåh, itu Bersemayam Di Atas Arsy, Allåh Mempunyai Mata, Allåh Mempunyai Tangan, Allåh Mempunyai Kaki, Allåh Mempunyai Betis.
    (Dalam Hal ini, “DEPAG RI” mengartikan semua nama dan sifat-sifat Allåh yang dinyatakan dalam kitab suci-Nya, hal ini sesuai dengan sunnah Råsul-Nya yang mengartikan dengan apa adanya, tanpa tahriif (mengubah), takthiil (menafikan/meniadakan) takyiif (menanyakan bagaimana), maupun tamtsiil (menyerupakan/menafsirkan).

    Namun sebaliknya apabila fitnah dan tuduhan keji “Thariqat Sarkubiyah Wa Dzuriyyah” tidak benar, maka mereka harus tahu diri dan sadar, bahwa aqidahnya menyelisihi Institusi tertinggi di Negeri ini, yaitu “DEPAG RI”.

    (Uraian menarik tentang kerancuan aqidah yang dianut oleh “Thariqat Sarkubiyah”, “Ummati Press” Wa Dzuriyyah, silahkan pembaca yang budiman merujuknya di buku kami “Mustasyar MWC NU Membedah Kitab Tauhid Kiai Ahli Bid’ah” Bab: “Menggugat Aqidah NU”.

    Jadi Hargailah juru dakwah yang ingin memurnikan atau mengembalikan al-Islam kepada Islam yang sebenarnya, bila kurang lengkap, lengkapilah hujjah-hujjahnya untuk memperkuatnya, bila keliru luruskan hujah-hujjahnya dengan dalil yang lebih kuat, jangan menfitnah apalagi memprovokasi dan ngompori massa awam yang tidak tahu menahu persoalan, dan biasanya massa awam main gruduk dan serbu. (Dikutib dari Buku: Tak Ingin Jadi Kiai ? CV. Laa Tasyuk Press, Surabaya Halaman: 42-43).

    BalasHapus
  65. Alhamdulillah Buku-buku Laa Tasyuk! Press, telah mendapat respon dari tokoh-tokoh NU! Walaupun belum ada satupun yang bisa mematahkan dalil-dalilnya, mengapa demikian ? Karena kami senantiasa menyertakan sanad dalam pendalilannya, hal ini menunjukkan dengan jelas ketelitian dan sikap berhati-hati kami dalam menyampaikan hadits. Dengan begitu, klaim orang-orang yang sesat dan senang membuat keraguan umat dapat ditolak, dan syubhat-syubhat yang mereka lon¬tarkan seputar keshahihan hadits dapat dipatahkan ! Dengan demikian maka semua buku Laa Tasyuk! Press, bisa memukul balik apa yang dituduhkan para pengusung kesesatan. Namun, bisa memukul balik Para Penyesat bukanlah tujuan. Yang lebih penting adalah menjelaskan bahwa al-haq atau kebenaran, tidak mungkin bisa dikalahkan oleh kebathilan atau kesesatan !!

    BalasHapus

  66. Perseteruan antara yang Benar dan yang Sesat, belumlah berakhir! Setelah Tim LBM NU Cabang Jember, menanggapi buku “MANTAN KIAI NU MENGGUGAT SHOLAWAT & DZIKIR SYIRIK” ( H. Mahrus Ali)”, dengan menghadirkan hadits-hadits shohih. Karena ditulis begitu. Apalagi ketua penulisnya seorang Kiai, punya gelar lagi – ahli hadits – KH. Abdullah Syamsul Arifin, MHI. Siapapun orangnya yang membaca buku bantahan itu, saya yakin banyak orang percaya kebenaran hadits-haditsnya.

    Begitu hadir buku, “BONGKAR KESESATAN DEBAT TERBUKA KYAI NU DI IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA’, 'SESAT TANPA SADAR’ & ’MEMBONGKAR KESESATAN KYAI-KYAI PEMBELA BID’AH HASANAH”, KH. Mahrus Ali membongkar kebohongan demi kebohongan serta kesesatan Kyai LBM NU Cabang Jember tersebut !! Kini muncul buku kedua yang beredar belakangan ini, dan kalau kita perhatikan di bagian atas sampul depannya maka akan terpampang dua nama orang besar, yaitu bapak Prof. Dr. KH. Malik Madani (Katib Aam Pengurus Besar NU) dan Habib Zain Bin Hasan Baharun (Pengasuh PP Darullughah Wadda’wah Raci Bangil Pasuruan Jatim). MasyaAllah, dua nama tokoh yang cukup terkenal dan berkedudukan pula.

    Namun apakah sudah menjamin bahwa buku,”Kiai NU atau Wahabi YANG SESAT TANPA SADAR?” Jawaban Terhadap buku-buku Mantan Kiai NU, yang diberi pengantar oleh tokoh-tokoh besar ini isinya bagus, benar dan bermutu?! Mohon para pembaca sabar sebentar, insyaAllah akan kita buktikan bersama. Dan sebentar lagi kita akan mengetahui jawabannya ! Siapakah Yang Benar-benar SESAT TANPA SADAR ?!

    Selamat Membaca.













    BalasHapus
  67. Bongkar Kesesatan Idrus Ramli Dalam Buku, ' Kiai NU atau Wahabi YANG SESAT TANPA SADAR?” Jawaban Terhadap buku-buku Mantan Kiai NU', Buku ini merupakan buku kedua (jilid II) dari buku Jawaban Untuk Idrus Ramli & Tokoh-Tokoh NU



    Idrus Ramli adalah kyai brekele-pendusta, semoga Allaah Subhanahu wa Ta'ala tetapkan hidayah dan taufiq kepada beliau. Dalam Buku, ' Kiai NU atau Wahabi YANG SESAT TANPA SADAR?” Jawaban Terhadap buku-buku Mantan Kiai NU', Idrus Ramli mengatakan:
    Sedangkan dalam buku kedua ”Sesat Tanpa Sadar”, Mahrus Ali mengupas secara tuntas buku bantahan yang dituis oleh Tim LBM NU Jember. Akan tetapi, setelah penulis membaca dua buku jawaban tersebut, ternyata Mahrus jarang sekali menanggapi apa yang ditulis oleh Tim LBM Jember. Bahkan, Mahrus terbukti banyak memelintir dan serta tidak jujur dalam mengutip teks-teks para ulama Ahlusunnah Wal Jamaah. Lebih dari itu, Mahrus juga berani menyalahkan pendapat para ulama yang menjadi rujukan utama sekte Wahabi seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim al Jauziyyah, dan lain-lain, Oleh karena itu, dalam buku ini, kami menyingkap dalil-dalil LBM NU Jember yang tidak ditanggapi oleh Mahrus Ali. Kami juga akan mengungkap ketidak jujuran Mahrus dalam mengutip pernyataan para ulama dan beberapa pandangan nyeleneh Mahrus Ali dalam buku-bukunya yang lain. Wallaahu A’lam.
    Pembaca yang Dirahmati Oleh Allah swt, dengan ini sangat jelas sekali bahwa kyai brekele-pendusta salah faham dalam pernyataannya ini, jika saya berani menyalahkan para ulamaa besar, dan yang semisalnya ini jelas tuduhan yang jauh dari kebenaran !! Mohon para pembaca sabar, sebentar lagi akan mengetahui jawabannya, insyaAllah akan kita buktikan. Kemudian yang kedua! Benarkah saya mengupas secara tuntas buku bantahan yang dituis oleh Tim LBM NU Jember ? Inilah salah satu ketidak jelian Idrus Ramli ! Coba anda baca lagi ! bukankah buku, ‘SESAT TANPA SADAR’, hanya membahas seputar memakai jimat, tawassul, sholawat syirik dll, & ini merupakan Trick yang dilakukan oleh Penerbit, untuk menjernihkan persoalan, agar tidak membut merah kuping serta kebakaran jenggot warga NU, seakan-akan begitu mudahnya mematahkan hujjah Tim LBM NU Jember yang bagaikan sarang laba-laba. Oleh sebab itu buku bantahan yang di keluarkannya pun pada sub—bab per sub—bab, kemudian disusul buku yang ketiga yaitu, ’MEMBONGKAR KESESATAN KYAI-KYAI PEMBELA BID’AH HASANAH', yang secara khusus mengupas permasalahan bid'ah hasanah dengan hujjah begitu kuat dari al-Qur-an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, sehingga InsyaAllah mereka tidak akan mampu berhujjah dan membantah. Sedangkan buku Idrus Ramli yang beredar belakangan ini, memang buku bantahannya tidak segera dikeluarkan oleh penerbit, agar bergulir di masyarakat luas dulu, disamping itu bersamaan dengan terbitnya buku yang ketiga. Sehingga mereka akan mengetahui siapakah yang serampangan dalam menyampaikan keterangan, bahkan pontang panting kesana kemari tanpa dalil yang shahih ?! Nah jika demikian maka siapakah Yang Sesat Tanpa Sadar… menurut anda ?? Kiai NU… ataukah Ahlussunnah wal Jama’ah ?! Jelas! KH. Idrus Ramli dkk.

    Selamat Membaca.








    BalasHapus